Beberapa waktu lalu, gue ngobrol sama tetangga sambil nunggu anak pulang sekolah. Dia ngeluh, "Bajuku banyak, tapi kok ya tetep aja kelihatan nggak rapi. Padahal harganya lumayan, lho." Nah, dari situlah gue sadar, ada satu pertanyaan yang kayaknya selalu muncul di kepala ibu rumah tangga soal fashion, tapi jarang dijawab dengan jujur. Bukan soal brand, bukan soal tren, tapi soal kenapa penampilan kadang nggak sesuai ekspektasi padahal udah beli baju yang nggak murah.
Jadi di artikel ini, gue mau jawab pertanyaan-pertanyaan itu satu per satu. Bukan jawaban teoretis dari majalah yang penulisnya nggak pernah nyuci baju sendiri, ya. Ini jawaban dari pengalaman gue sebagai ibu rumah tangga yang udah lewatin salah beli baju berkali-kali.
"Kenapa baju mahal tetap kelihatan kusam?"
Ini pertanyaan nomor satu yang paling sering gue dengar. Jawabannya sederhana: karena kualitas bahan nggak selalu sebanding sama harga. Banyak baju mahal yang bahannya justru rewel, gampang melar, atau warnanya cepat pudar setelah beberapa kali cuci. Sebaliknya, ada baju murah yang bahannya katun tebal dan awet bertahun-tahun.
Baca juga: Tren Fashion Korea Acubi Mendominasi Gaya Milenial Indonesia
Gue pernah beli kemeja harga tiga ratus ribu, eh setelah dua kali cuci udah kusut parah dan warnanya berubah. Sementara kaos lima puluh ribuan di pasar malah jadi andalan sampai sekarang. Jadi pelajaran pertama: jangan percaya harga, percaya bahan. Coba pegang dulu, rasain teksturnya, cek label komposisinya. Kalau katunnya tipis banget sampai kelihatan terawang, mending skip.
Selain bahan, ada faktor lain yang sering dilupakan: cara nyimpen. Baju yang ditumpuk sembarangan di lemari, apalagi yang lembap, bisa bikin serat kain rusak dan muncul bau apek. Padahal bajunya masih bagus.
"Aku punya banyak baju, tapi kok bingung mau pakai apa?"
Oh, ini gue banget dulu. Lemari penuh, tapi tiap pagi berdiri bengong kayak orang kebingungan. Ternyata masalahnya bukan kurang baju, tapi kebanyakan baju yang nggak nyambung satu sama lain. Kita beli karena lagi diskon, karena lagi tren, karena suka warnanya — tapi nggak kepikiran cocoknya sama apa.
Solusi yang gue coba dan lumayan berhasil: bikin "seragam" pribadi. Pilih tiga sampai lima outfit yang udah pasti cocok dan nyaman, lalu itu jadi andalan harian. Sisanya jadi pelengkap buat acara khusus. Kedengarannya membosankan, tapi justru bikin hidup lebih gampang. Nggak perlu mikir lama tiap pagi, dan penampilan tetap konsisten rapi.
Lemari yang isinya sedikit tapi semuanya bisa dipadupadankan jauh lebih berguna daripada lemari penuh tapi setengahnya nggak pernah dipakai.
"Gimana caranya tetap gaya tanpa bikin dompet jebol?"
Ini pertanyaan yang paling sensitif, karena jawabannya sering nggak populer. Tapi gue tetap mau jawab jujur: berhenti beli baju karena lagi murah. Beli karena memang butuh dan memang cocok. Diskon itu cuma menghemat uang kalau barangnya memang kamu perlukan. Kalau nggak, itu namanya belanja impulsif yang dibungkus label "hemat".
Gue dulu sering kena jebakan ini. Lihat promo "beli dua gratis satu", langsung kalap. Ujungnya baju numpuk, beberapa bahkan belum pernah dipakai sampai sekarang. Sejak gue mulai pakai aturan sederhana — tunggu tiga hari sebelum beli — pengeluaran buat fashion turun drastis. Kalau setelah tiga hari masih kepikiran dan masih butuh, baru beli. Kalau lupa, berarti memang nggak perlu.
Beberapa hal kecil yang bikin penampilan beda
- Setrika itu wajib, bukan opsional. Baju murah yang disetrika rapi kelihatan jauh lebih mahal daripada baju mahal yang kusut.
- Perhatikan ukuran, bukan angka di label. Baju yang pas di badan selalu lebih baik daripada baju yang "katanya" lagi tren.
- Sepatu yang bersih. Orang sering fokus ke baju, padahal sepatu kotor langsung bikin seluruh penampilan turun kelas.
- Warna netral itu penyelamat. Hitam, putih, abu, navy — semua ini gampang dipadukan dan jarang salah.
"Baju lama masih bagus, tapi bosen. Harus beli baru?"
Nggak selalu. Coba dulu akalin. Ganti cara pakainya: kemeja yang biasa dipakai buat kerja bisa jadi outer santai buat jalan pagi. Atau tambah aksesori sederhana kayak ikat pinggang atau syal. Kadang yang bikin bosen bukan bajunya, tapi cara kita memakainya yang itu-itu aja.
Kalau memang udah benar-benar nggak pernah dipakai setahun lebih, ya udah, relakan. Donasikan atau jual. Lemari yang lega itu efeknya ke mental juga, lho. Gue sendiri ngerasain, setelah beresin lemari dan buang baju yang nggak pernah dipakai, tiap pagi jadi lebih ringan dan nggak gampang emosi cuma gara-gara bingung milih baju.
Jadi intinya, pertanyaan-pertanyaan soal fashion itu jawabannya sering balik ke satu hal: kenal diri sendiri. Tahu bahan yang cocok, tahu warna yang bikin nyaman, tahu batas dompet, dan tahu kapan berhenti belanja. Nggak perlu jadi orang paling modis di komplek, cukup jadi versi rapi dan nyaman dari diri sendiri. Itu udah lebih dari cukup.
Kalau kamu punya pertanyaan fashion lain yang sering bikin penasaran, tulis aja di kolom komentar. Siapa tahu jadi bahan tulisan berikutnya.