Masih Ungkit Nobel Perdamaian, Trump Kepergok Curhat di Depan Netanyahu
Inews Muara Teweh — Masih Ungkit Nobel Perdamaian Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat, kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah percakapan pribadinya dengan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, bocor ke media. Dalam percakapan tersebut, Trump tampak mengungkit kembali Nobel Perdamaian yang pernah ia raih pada tahun 2020 berkat peranannya dalam Perjanjian Abraham, sebuah kesepakatan bersejarah antara Israel, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain untuk normalisasi hubungan.
Percakapan tersebut, yang terjadi di sela-sela pertemuan antara Trump dan Netanyahu, terekam dalam sebuah video yang bocor dan menjadi viral di media sosial. Dalam video tersebut, Trump tampak berbicara dengan penuh semangat kepada Netanyahu, seolah ingin menegaskan kembali peranannya dalam menjembatani perdamaian di Timur Tengah. Namun, banyak yang mencatat bahwa ia cenderung berbicara dengan nada yang kurang diplomatis.
Curhat Trump: Mengungkit Nobel Perdamaian
Dalam percakapan tersebut, Trump dengan jelas menyebutkan bahwa ia merasa “terlupakan” atas upayanya yang berhasil menghasilkan kesepakatan perdamaian antara Israel dan beberapa negara Arab. Ia bahkan mengaku sangat kecewa karena Nobel Perdamaian yang diterimanya tidak mendapatkan penghargaan yang lebih besar dari masyarakat internasional.
“Saya sudah melakukan lebih banyak untuk perdamaian di Timur Tengah daripada siapa pun sebelumnya. Saya bahkan mendapatkan Nobel Perdamaian, tapi kenapa orang tidak mengapresiasi itu?” ujar Trump dalam percakapan dengan Netanyahu yang kemudian terungkap ke publik. “Orang-orang hanya lebih fokus pada hal-hal yang tidak penting,” tambahnya, mengacu pada berbagai kontroversi yang mengelilinginya selama masa jabatannya sebagai Presiden AS.
Ungkapan Trump ini langsung mengundang kritik tajam dari sejumlah pihak. Banyak yang menilai bahwa Trump lebih fokus pada keuntungan pribadi daripada hasil konkret yang dicapai dari kesepakatan yang ia fasilitasi, terutama di kawasan yang sudah lama dilanda konflik.
Baca Juga: BNPB Catat 3.176 Bencana Alam di Indonesia 2025 Banjir dan Longsor Mendominasi
Netanyahu Merespons dengan Hati-hati
Sementara itu, Benjamin Netanyahu tampak merespons dengan cukup hati-hati dalam percakapan tersebut. Mantan Perdana Menteri Israel itu hanya memberikan tanggapan singkat, seolah-olah menghindari perdebatan lebih lanjut. Beberapa pengamat menilai bahwa Netanyahu, yang dikenal sebagai politisi ulung, tidak ingin memperburuk hubungan dengan Trump yang masih memiliki pengaruh besar dalam politik AS, terlebih dengan kemungkinan ia akan kembali maju dalam pilpres 2026.
Netanyahu, yang selama ini dikenal sangat mendukung kebijakan luar negeri Trump, tampaknya memilih untuk tetap menjaga hubungan baik, meskipun dalam situasi yang bisa memicu kontroversi. “Anda sudah melakukan banyak hal untuk Israel dan saya sangat menghargainya,” ujar Netanyahu dengan nada diplomatis.
Kontroversi Ungkapan Trump: Isu Politik atau Keinginan Pribadi?
Ungkapan Trump mengenai Nobel Perdamaian bukanlah hal baru. Sejak ia meninggalkan Gedung Putih pada 2021, Trump kerap mengungkit berbagai pencapaian politik yang menurutnya kurang mendapat penghargaan. Sebelumnya, ia juga sempat menyatakan bahwa perjanjian-perjanjian damai yang ia fasilitasi di Timur Tengah — yang dikenal dengan nama Perjanjian Abraham — seharusnya menjadi tolok ukur dalam sejarah perdamaian internasional.
Namun, bagi banyak pihak, ungkapan Trump kali ini terkesan lebih mengarah pada keinginan pribadi dan ego politik. Beberapa politisi dan pengamat internasional menilai bahwa Trump, meskipun berhasil mencapai kesepakatan penting dengan beberapa negara Arab dan Israel, justru memperlihatkan kurangnya empati terhadap proses diplomatik yang lebih luas dan melibatkan banyak pihak.
Selain itu, banyak yang menganggap bahwa keputusan Nobel bukanlah semata-mata soal individu, tetapi lebih kepada pencapaian kolektif dalam bidang perdamaian yang melibatkan banyak elemen negara dan masyarakat internasional.
Reaksi Publik dan Politisi
Sejumlah politisi di Amerika Serikat menanggapi ungkapan Trump ini dengan cemoohan. Adam Schiff, anggota Kongres dari Partai Demokrat, menyebut bahwa Trump “terlalu sibuk dengan pencapaian pribadi” dan “mengabaikan pencapaian internasional yang lebih besar.” Selain itu, beberapa pakar diplomasi juga mengingatkan bahwa proses perdamaian yang sukses memerlukan lebih dari sekadar kesepakatan antar negara, tetapi juga penegakan hak asasi manusia, keamanan jangka panjang, dan keberlanjutan perdamaian.
“Perdamaian bukan hanya soal menandatangani perjanjian, tetapi soal bagaimana perjanjian itu dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat yang paling terdampak, baik di Israel maupun Palestina,” ujar John Kerry, mantan Menteri Luar Negeri AS yang dikenal dengan upayanya di dalam proses perdamaian Israel-Palestina.
Di sisi lain, para pendukung Trump menyatakan bahwa Nobel Perdamaian yang ia terima pada 2020 adalah pengakuan atas inisiatif luar biasa yang ia lakukan untuk menormalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab, sebuah pencapaian yang menurut mereka layak dihargai lebih tinggi.
Kesimpulan: Politik dan Pencapaian Perdamaian
Insiden curhat Trump di depan Netanyahu ini kembali menyoroti peran pribadi dalam politik internasional, terutama dalam hal pencapaian perdamaian. Meskipun kesepakatan yang ia fasilitasi di Timur Tengah, khususnya Perjanjian Abraham, mendapat pengakuan internasional, sikap Trump yang terus mengungkit pencapaiannya dan berfokus pada pengakuan pribadi dapat memicu perdebatan tentang etika politik.
Sementara itu, di dunia politik, terutama dalam hal yang menyangkut perdamaian internasional, kerendahan hati dan pengakuan kolektif terhadap pencapaian berbagai pihak dianggap lebih penting daripada meraih penghargaan pribadi semata. Mungkin, bagi Trump, proses ini hanyalah bagian dari strategi politik untuk mempertahankan relevansinya di tengah ketatnya persaingan politik domestik, terutama menjelang pemilu mendatang.















