Dari Kalimantan ke Bantul: Jejak Inspirasi Pembangunan Zona Integritas Menuju Birokrasi Bersih Melayani
Inews Muara Teweh– Suasana di Aula PLHUT Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Bantul pada Kamis, 28 Agustus 2025, terasa istimewa. Bukan hanya karena rutinitas kerja, tetapi karena hadirnya tamu istimewa yang datang dari jauh, membawa misi mulia: menimba ilmu. Kankemenag Bantul, yang telah menyandang gelar prestisius Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM), dengan tangan terbuka menerima kunjungan studi tiru dari Kankemenag Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah pertukaran semangat untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan melayani.
Acara yang juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Kemenag Kab. Bantul ini menandaskan komitmen kedua instansi terhadap transparansi. Rombongan dari Barito Utara yang dipimpin langsung oleh Kepala Kankemenagnya, Arbaja, disambut hangat oleh jajaran pimpinan dan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kankemenag Bantul, yang dimotori oleh Kasubbag TU, Aminuddin.
Misi Belajar dari Hati Kalimantan
Dalam sambutannya, Arbaja menyampaikan tujuan kedatangan mereka dengan bahasa yang lugas dan penuh harap. Ia mengakui bahwa Kankemenag Bantul adalah “sumber inspirasi” yang mereka cari.
“Kami ingin belajar di sini, Pembangunan Zona Integritas di Kemenag Bantul yang sudah duluan mendapatkan predikat WBBM. Kami berharap nantinya kami bisa membawa ilmu dari sini yang bisa kami implementasikan di Kemenag Barito Utara,” jelasnya dengan tekad yang membara.

Baca Juga: Dalam Rangka Optimalkan PAD, Bapenda Palangka Raya Gelar Razia Pajak Kendaraan
Kalimat penutupnya yang disampaikan dengan sedikit humor, “Kami sudah menyiapkan harddisk eksternal siapa tahu nanti ada yang bisa kami bawa,” bukan hanya mencairkan suasana, tetapi juga menyiratkan keseriusan dan kesiapan mereka untuk menyerap setiap ilmu, dokumen, dan praktik terbaik (best practices) yang akan dibagikan. Ini adalah metafora dari niat haus akan pengetahuan untuk dibawa pulang ke Kalimantan Tengah.
Kunci Sukses: Sinergi dan Komitmen yang Tak Kenal Lelah
Menyambut antusiasme tersebut, Kasubbag TU Kankemenag Bantul, Aminuddin, berbagi kunci fundamental dari kesuksesan mereka membangun ZI. Ia menekankan bahwa predikat WBBM bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari komitmen kolektif seluruh keluarga besar kantor.
“Dalam pembangunan ZI ini dibutuhkan sinergitas antarpegawai dan harus mempunyai komitmen serta orientasi dalam hal pelayanan prima kepada masyarakat,” tegas Aminuddin. Pernyataan ini mengingatkan bahwa transformasi birokrasi dimulai dari perubahan mindset setiap ASN, dari yang sekadar menyelesaikan tugas menjadi yang sungguh-sungguh ingin melayani.
Lebih lanjut, Aminuddin menegaskan bahwa meraih WBBM bukanlah garis finis, melainkan justru awal dari sebuah perjalanan panjang. Predikat ini adalah tanggung jawab yang harus terus dijaga dan ditingkatkan.
“Meskipun sudah berpredikat WBBM, kami tetap menjaga sekaligus mempertahankannya karena setiap tahun penerima predikat WBBM terus dievaluasi oleh KemenPAN-RB. Jadi setelah menerima WBBM, kami tidak diam, kami terus meningkatkan inovasi layanan,” tandasnya. Ini adalah pesan penting bahwa birokrasi yang bersih dan melayani adalah proses yang dinamis, terus ber evolusi, dan tidak pernah berpuas diri.
Membongkar Rak “Mainan Terbaik”: Berbagi Inovasi dan Strategi
Sesi inti dari kunjungan ini adalah paparan langsung dari Tim ZI Kankemenag Bantul, yang diwakili oleh Isman. Dengan detail, Isman memaparkan perjalanan panjang Kankemenag Bantul menuju puncak predikat WBBM. Mulai dari tahapan persiapan, pembenahan internal, penyusunan dokumentasi, hingga menghadapi proses asesmen yang ketat oleh KemenPAN-RB.
Yang lebih menarik, Kankemenag Bantul tidak pelit berbagi. Mereka membeberkan berbagai inovasi layanan yang mereka kembangkan. Inovasi-inovasi ini mungkin berupa penyederhanaan prosedur perizinan, digitalisasi layanan, sistem pengaduan terintegrasi, atau program pelayanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat Bantul. Inovasi-inovasi inilah yang menjadi nilai tambah dan pembeda yang membuat mereka layak menyandang WBBM.
Tak ketinggalan, Isman juga membagikan “tips and tricks” berharga untuk menghadapi penilaian ZI. Tips ini pastilah bersifat sangat praktis dan strategis, seperti cara menyusun bukti fisik yang rapi, mempersiapkan SDM untuk wawancara asesor, hingga membangun budaya kerja yang berintegritas sehari-hari, bukan hanya saat penilaian.
Sebuah Silaturahmi yang Memberi dampak
Kunjungan studi tiru ini jauh lebih dari sekadar acara formal. Ini adalah silaturahmi birokrasi yang konstruktif. Bagi Barito Utara, kunjungan ini adalah investasi pengetahuan untuk mempercepat perjalanan mereka menuju WBK/WBBM. Mereka pulang bukan hanya dengan harddisk yang penuh data, tetapi dengan gambaran nyata dan motivasi bahwa perubahan itu mungkin dan telah dibuktikan oleh rekan-rekannya di Bantul.
Bagi Kankemenag Bantul, kehadiran tamu dari jauh ini adalah penguat motivasi. Pengakuan dari instansi lain menjadi validasi bahwa kerja keras mereka diperhatikan dan layak untuk diteladani. Ini juga menjadi momen refleksi untuk terus konsisten dan berinovasi.
Pertukaran seperti inilah yang perlu terus digalakkan antar instansi pemerintah. Zona Integritas dan Wilayah Bebas dari Korupsi bukanlah kompetisi, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk memulihkan kepercayaan publik dan membangun Indonesia yang lebih baik, dimulai dari birokrasi yang bersih, efektif, dan melayani. Kolaborasi Bantul-Barito Utara adalah contoh nyata bahwa semangat untuk berubah itu menyebar, dari Pulau Jawa ke jantung Kalimantan, membawa angin segar bagi masa depan birokrasi Indonesia.















